Had Lampung

Aksara Lampung atau Had Lampung adalah bentuk tulisan yang khas berasal dari Lampung. Para ahli berpendapat bahwa aksara ini berasal dari perkembangan aksara Devanagari atau Dewdatt Deva Nagari atau aksara Pallawa dari India Selatan. Selain itu, aksara ini juga dipengaruhi oleh huruf Arab. Hal ini dapat dilihat dari suku katanya yang merupakan huruf hidup seperti halnya Huruf Arab, dimana digunakan tanda ‘fathah’ yang terdapat pada baris atas dan tanda ‘kasrah’ pada baris bawah, disamping tanda lainya dan setiap tanda mempunyai nama dan fungsi tersendiri.

Had Lampung sendiri memiliki bentuk kekerabatan dengan aksara Rencong, aksara Rejang Bengkulu, aksara Sunda, dan aksara Lontara, dengan induknya berasal dari aksara Pallawa. Had Lampung diciptakan oleh para Raja di Sekala Bekhak pada medio abad ke IX Masehi (Darwis H.A.). Had Lampung memiliki huruf induk sejumlah 20 buah dan dibaca dari kiri ke kanan. Selain huruf induk, Had Lampung juga memiliki anak huruf, anak huruf ganda, gugus konsonan, lambang, angka, dan tanda baca. Had Lampung atau yang lazim disebut aksara ‘Kaganga’ ini berbentuk suku kata seperti halnya aksara Jawa ‘ca-ra-ka’ dan Bahasa Arab ‘alif-ba-ta’.

Istilah kaganga ini sebenarnya lebih luas lagi, sebab istilah ini sendiri diciptakan oleh Mervyn A. Jaspan (1926-1975), seorang antropolog di University of Hull, Inggris, dalam bukunya ‘Folk Literature of South Sumatra’. Ia mengatakan bahwa aksara-aksara yang termasuk kelompok kaganga antara lain Rejang, Rencong, Lampug, bahkan Sunda. Sementara itu, alih-alih menggunakan istilah aksara ‘kaganga’, istilah asli yang digunakan oleh masyarakat di Sumatera bagian selatan adalah Surat Ulu dan/atau Surat Ogan.

Had Lampung masuk ke daerah Sumatera Selatan pada zaman kerajaan Sriwijaya (700-1300). Pada beberapa daerah di Lampung, aksara ini disebut dengan ‘kelabai surat Lampung’ atau ‘ibu surat Lampung’. Menurut Prof. K.F. Holle, sebagian suku di Indonesia sendiri tidak memiliki aksara dan baru mengenal aksara setelah menerima Islam. Dari semua aksara Surat Ulu (aksara Kaganga), aksara Lampung memiliki kelainan tersendiri. Aksara ini telah dibahas oleh Prof. Karel Frederik Holle dalam Tabel van Oud en Nieuw Indische Alphabetten (Batavia, 1882), dan sempat disinggung juga oleh Prof. Johannes Gijsbertus de Casparis dalam Indonesian Palaeography: A History of Writing in Indonesia (Leiden, 1975).

Meskipun dipengaruhi oleh aksara Pallawa, namun aksara Lampung sudah ada sejak sebelum pengaruh India memasuki Lampung. Pengaruh budaya India memberikan ‘local genius’ pada aksara Lampung. Jadi, sebenarnya aksara Lampung ini (dan juga aksara-aksara lain di Indonesia) merupakan aksara orisinil Nusantara. (James Collins, Bahasa Melayu dan Bahasa Sansekerta).

Had Lampung kini telah mengalami perkembangan dan penyempurnaan dari Had Lampung kuno yang jauh lebih kompleks. Aksara kuno Lampung dapat dilihat pada tulisan-tulisan piagam lama yang terbuat dari kulit kayu atau tertulis di atas tanduk. Hal ini dapat dilihat pada kitab yang terdapat di bekas Keratuan Darah Putih bertahun 1270 H, yang ditulis dalam aksara Lampung kuno dan Arab Melayu, dengan memakan bahasa Jawa Banten. Sementara aksara Lampung yang lebih baru adalah aksara yang sekarang masih dipakai di kalangan masyarakat Lampung, terutama di kalangan orang tua. Aksara baru ini mulai dibakukan oleh para dewan adat di Lampung pada 23 Februaru 1985.

Sejarah mencatat, aksara Lampung mulai jarang digunakan setelah Islam masuk pasca runtuhnya Kerajaan Sriwijaya. Kala itu, aksara Lampung banyak digunakan untuk menuliskan mantra-mantra dan kelabai yang bertentangan dengan Islam yang tidak memercayai mantra-mantra. Akibatnya, masyarakat Lampung kala itu sempat diminta tidak lagi mennggunakan aksara Lampung karena dinilai syirik, lalu berkembanglah peradaban baru dengan aksara Melayu atau Jawi. Kemungkinan, naskah kuno berisi mantra-mantra atau kelabai yang sebelumnya dipelajari turun-temurun itu dimusnahkan. Meskipun ada pula yang masih tersimpan di perpustakaan di Belanda dan Jerman.

Di masa silam, aksara Lampung lazim digunakan oleh gadis asli Lampung dalam menuliskan mantra pemikat lawan jenis yang ditulis di atas media kulit kayu. Selain itu, digunakan pula dalam penulisan hukum, surat resmi untuk mengesahkan hak kepemilikan tanah tradisional, mantra, sihir, guna-guna, cara sesajian, petuah-petuah, syarat menjadi pemimpin, obat-obatan, hingga syair mistik Islam. Ada pula syair percintaan, yang dikenal sebagai bandung atau hiwang. Media penulisan selain kulit kayu juga menggunakan bilah bambu, daun lontar, dalung (kepingan logam), kulit hewan, tanduk kerbau, dan batu. Syair percintaan yang berbentuk dialog ditulis pada keping atau lembar bambu (gelumpai) yang diikat menjadi satu dengan tali melalui lubang di ujung satu serta diberi nomor berdasarkan urutan abjad. Ada pula yang menorehkannya pada tabung bambu dan kulit kayu berlipat.

Karya-karya ilmiah tentang bahasa dan aksara Lampung semuanya memakai “ra” untuk menuliskan huruf atau fonem ke-16 aksara Lampung. Gelar (adok) dan nama tempat harus dituliskan dengan ejaan ra, meski dibaca mendekati bunyi kha/gha, misalnya Pangiran Raja Purba, Batin Sempurna Jaya, Radin Surya Marga, Minak Perbasa, Kimas Putera, Marga Pertiwi. Penulisan “radu rua rani mak ratong” merupakan ejaan baku, sedangkan penulisan “khadu khua khani mak khatong” tidaklah baku.

Sementara itu, penelitian ilmiah tentang bahasa dan aksara Lampung dipelopori oleh Prof. Dr. Herman Neubronner van der Tuuk melalui artikel “Een Vergelijkende Woordenlijst van Lampongsche Tongvallen” dalam jurnal ilmiah Tijdschrift Bataviaasch Genootschap (TBG), volume 17, 1869, hal. 569-575, serta artikel “Het Lampongsch en Zijne Tongvallen”, dalam TBG, volume 18, 1872, hal. 118-156, kemudian diikuti oleh penelitian Prof. Dr. Charles Adrian van Ophuijsen melalui artikel “Lampongsche Dwerghertverhalen” dalam jurnal Bijdragen Koninklijk Instituut (BKI), volume 46, 1896, hal. 109-142. Juga Dr. Oscar Louis Helfrich pada 1891 menerbitkan kamus Lampongsch-Hollandsche Woordenlijst. Lalu ada tesis Ph.D. dari Dale Franklin Walker pada Universitas Cornell, Amerika Serikat, yang berjudul A Grammar of the Lampung Language (1973).

Di era ini, penggunaan aksara Lampung umumnya dipakai untuk menuliskan hal yang bersifat pribadi, seperti buku harian dan surat cinta. Sementara itu, dalam penulisan bahasa Lampung, masyarakat Lampung kini lebih sering menggunakan huruf latin ketimbang aksara Lampung. Kini, aksara Lampung dipelajari di sekolah-sekolah sebagai muatan lokal. Sampai saat ini, aksara Lampung belum terdaftar di Unicode sehingga penulisan aksara Lampung belum dikenal oleh komputer. Untuk itu, terdapat upaya komputerisasi aksara Lampung yang diprakarsai oleh Wawan Supriadi dan Hery Fajar Isnawan dengan membuat software atau font yang bisa diaplikasikan langsung dalam pengetikan komputer. Upaya komputerisasi ini kemudian disempurnakan oleh Mohammad Yuzariyadi. Selain itu, penggunaan Aksara Lampung juga bisa dilihat pada nama jalan, logo Provinsi, Kabupaten, dan Kota di Provinsi Lampung.

Huruf

had0

Anak Huruf

 

Terletak diatas huruf

diatas

Terletak dibawah huruf

dibawah

Terletak disamping huruf

disamping

Tanda Baca

tanda baca

Angka Arab

had3

 

About the Author
One Comment
  1. Anonganteng Reply
    INTERUPSI ADIN! ANON UBALA'98 , Jadi gini adin..... izin copas ya adin, terimakasih adin.

Leave a Reply

*

captcha *