Payung Agung Kepaksian Sekala Beghak

Sekala Beghak dipercaya oleh sebagian masyarakat Lampung sebagai salah satu tempat asal mula bangsa Lampung, yaitu sebuah Kerajaan yang letaknya di dataran Belalau, sebelah selatan Danau Ranau yang secara administratif kini berada di Kabupaten Lampung Barat.

Diriwayatkan di dalam Tambo bahwa empat orang Putera Raja Pagaruyung Maulana Umpu Ngegalang Paksi tiba di Sekala Beghak untuk menyebarkan agama Islam. Kedatangan empat Umpu ini merupakan kemunduran dari Kerajaan Sekala Beghak Kuno atau Suku Tumi yang merupakan penganut Hindu Bairawa/Animisme dan sekaligus merupakan tonggak berdirinya Kepaksian Sekala Beghak atau Paksi Pak Sekala Beghak yang berasaskan Islam. Keempat Putera Maulana Umpu Ngegalang Paksi masing masing adalah:

  1. Umpu Bejalan Di Way memerintah daerah Kembahang dan Balik Bukit dengan Ibu Negeri Puncak, daerah ini disebut dengan Paksi Buay Bejalan Di Way.
  2. Umpu Belunguh memerintah daerah Belalau dengan Ibu Negerinya Kenali, daerah ini disebut dengan Paksi Buay Belunguh.
  3. Umpu Nyerupa memerintah daerah Sukau dengan Ibu Negeri Tapak Siring, daerah ini disebut dengan Paksi Buay Nyerupa.
  4. Umpu Pernong memerintah daerah Batu Brak dengan Ibu Negeri Henibung, daerah ini disebut dengan Paksi Buay Pernong

 

Kerajaan Sekala Beghak memiliki simbol-simbol kebesaran kerajaannya. Salah satu simbol kebesaran Kepaksian Sekala Beghak adalah peralatan upacara adat sehari-hari atau upacara adat kebesaran. Payung Agung adalah salah satu tanda kebesaran da keagungan Saibatin di Kerajaan Sekala Beghak.

Sampai masa kepemimpinan Saibatin Pangeran Suhaimi, payung agung hanya boleh digunakan Saibatin. Warna payung agung boleh apa saja kecuali warna hijau. Hal itu karena payung agung berwarna hijau dikenakan oleh Raja Jukkuannya. Saat arak-arakan atau saat Saibatin berjalan, payung agung selalu dikembangkan mengikuti langkah kaki Saibatin. Apabila Saibatin masuk ke dalam rumah atau suatu ruangan, payung agung tetap dikembangkan di belakang tempat duduk Saibatin.

Saat Saibatin tidak bisa menghadiri suatu acara adat, maka Saibatin dapat mengirim utusannya untuk hadir. Payung agung tetap digunakan untuk mengiri utusan tersebut, namun tidak dikembangkan melainkan dibiarkan menguncup. Apabila utusannya masuk ke rumah atau suatu ruangan, payung agung diletakkan diluar rumah yang memiliki acara dengan tetap menguncup.

About the Author

Leave a Reply

*

captcha *